PUYUH “UNGGAS MINI” YANG TIDAK BISA DIPANDANG ENTENG Oleh : Ir. Sjamsirul Alam


Jan 06, 2016 by Disnak Jabar    Dibaca : 1317 Kali
 

1
Ekonomi Bisnis:
PUYUH “UNGGAS MINI” YANG TIDAK BISA DIPANDANG ENTENG
Oleh : Ir. Sjamsirul Alam
Diantara berbagai jenis unggas yang mulai banyak diusahakan di Indonesia, kita kenal burung puyuh yang kadang-kadang dipandang sebelah mata karena penampilannya yang mini dan telurnya yang kecil, padahal bila diusahakan secara intensif memberikan keuntungan (profit) yang menggiurkan dan memberikan lapangan kerja pada banyak orang. Peminat telur unggas yang satu ini ternyata cukup banyak antara lain restoran/rumah makan Tionghoa dan Indonesia, hotel bintang lima, supermarket, pasar tradisionil, pedagang baso, pedagang ayam goreng (dibikin sate telur), pedagang bubur ayam dan lain-lain.
Demikian pula daging puyuh memiliki cita-rasa yang khas dan nilai gizi yang tinggi, serta memliki segmen pasar tersendiri. Rasa daging puyuh tidak kalah dengan daging ayam atau daging merpati ataupun daging bebek, apalagi bila diramu dengan bumbu yang lezat.
Kandungan Nutrisi berbagai telur unggas, termasuk telur puyuh dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1 : Kandungan Nutrisi Berbagai Telur Unggas (gram/100 gram).
Jenis Unggas Protein (%) Lemak (%) Karbohidrat (%) Abu (%)
Puyuh 13,1 11,1 1,0 1,1
Ayam ras 12,7 11,3 0,9 1,0
Ayam kampung 13,4 10,3 0,9 1,0
Bebek 13,3 14,5 0,7 1,1
Angsa 13,9 13,3 1,5 1,1
Merpati 13,8 12,0 0,8 0,9
Kalkun 13,1 11,1 1,7 0,8
Sumber: Lystiyowati & Roospitasari (2000).
Menurut Novo Indarto (2011), khasiat telur puyuh terutama kuning telurnya yang mengandung senyawa lutein dan zeaksantin mampu melindungi mata dari kerusakan dengan cara memfilter sinar biru pada mata anak-anak dan bayi. Selain itu berkhasiat sebagai anti-kanker, memperlambat penuaan dan sangat baik untuk ibu hamil dan ibu menyusui.
Kandungan Nutrisi daging puyuh seperti pada Tabel 2 berikut.



2
Tabel 2 : Kandungan Nutrisi Daging Puyuh dibanding
                                                              Daging  Jenis Ternak Lainnya.
Jenis Ternak Kalori (Kcal/Kg) Protein (%) Lemak (%)
Puyuh 120 21,3 – 23,4 1,4 – 2,5
Ayam 302 18,2 25
Itik 113 17,6 4,2
Kambing 154 16,6 9,2
Domba 206 17,1 14,8
Sapi 207 18,8 14
Sumber: Dari berbagai sumber.

Dari data kandungan nutrisi tersebut, ternyata daging puyuh mengandung protein yang lebih tinggi dan lemak yang jauh lebih rendah dibanding ternak lainnya sehingga kemungkinan hal inilah yang menjadi dasar negara-negara maju tertarik mengembangkan bisnis puyuh pedaging. 

Perkembangan Puyuh di Negara Tetangga.
Bila kita melihat perkembangan usaha peternakan puyuh di negara tetangga, Indonesia sangat jauh tertinggal, mereka sudah demikian maju dan sudah mampu mengekspor produknya terutama daging puyuh beku ke negara lain.
Pada Tabel 3 berikut dapat dilihat total pemotongan puyuh per tahun dari tiap negara.
Tabel 3 :  Total Pemotongan Puyuh Pedaging per Tahun
                                                            Di Negara Tetangga.
No Negara Total Pemotongan Puyuh/Tahun (Ton)
1 Amerika Serikat 225.000
2 China 146.000 – 190.000
3 Spanyol 10.000
4 Perancis 8.200 – 9.000
5 Italia 3.300 – 3.600
6 Brazil 2.000
                         Sumber: Ellis Herlinna (2013).
Dari ilustrasi total pemotongan puyuh tersebut dapat dibayangkan berapa populasi yang dimiliki dan betapa seriusnya negara-negara tersebut memanfaatkan puyuh sebagai sumber protein hewani bangsanya.
Di negara-negara tersebut lebih menonjol usaha puyuh pedaging, sedangkan di Indonesia masih sebatas untuk diambil telurnya. Jadi negeri kita perlu mempopulerkan puyuh pedaging mengingat masa pemeliharaannya cukup 4 minggu saja, yang berarti perputaran modalnya lebih cepat.

Riwayat Puyuh.
Burung puyuh merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat dan dinamakan game birds (unggas buruan), sekitar tahun 1870 merupakan jenis burung yang tidak mampu terbang dengan ukuran tubuh yang relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Penjinakan puyuh yang semula burung liar, dilakukan di Jepang, Korea, Cina dan Taiwan dengan tujuan awal sebagai hewan kesayangan dan burung penyanyi dan selanjutnya sebagai penghasil telur dan daging. Terakhir populer sebagai hewan percobaan.
Puyuh yang biasa diternakan di Indonesia adalah species Coturnic coturnix japonica dan kebanyakan yang dipelihara adalah varietas wild type dan sebagian kecil varietas manchurian golden. Warna bulu puyuh varietas wild type bervariasi antara coklat muda sampai coklat tua kehitaman, sedangkan varietas manchurian golden berwarna lurik kuning keemasan seperti warna jerami, terang dengan bintik-bintik hitam sampai coklat tua. Warna bulu puyuh dewasa varietas wild type berwarna campuran hitam dan coklat cukup menonjol terutama pada permukaan punggung. Bulu punggung coklat dengan garis hitam serta garis berwarna jerami terang. Bulu sayap agak coklat tanpa garis dan bagian atas kepala coklat gelap dengan garis putih crem dan menyebar sepanjang sisi bagian muka. Puyuh jantan warna bagian muka dan leher bawah bulu berwarna coklat kemerahan, bulu bagian dada atas berwarna coklat muda sedang bagian bawahnya coklat. Puyuh betina pada bagian muka berwarna, leher dan bagian atas dada berwarna coklat muda terang dengan bintik-bintik coklat tua gelap pada bagian ujung bulu dada, sedang bagian bawah bulu dada berwarna coklat dan putih.
Keunggulan Puyuh dibanding unggas lain.
Beberapa keunggulan puyuh dibandingkan jenis unggas yang lain (ayam, bebek, kalkun, entog), antara lain :
1. Dapat berproduksi telur lebih cepat (umur 42 hari sudah dewasa kelamin).
2. Masa mengeram hanya 16 – 17 hari.
3. Mempunyai siklus hidup pendek.
4. Pertumbuhan badan cepat.
5. Biaya pemeliharaan lebih kecil.
6. Konsumsi pakan hanya 14 – 20 gram/ekor/hari.
7. Sangat responsif terhadap pakan yang diberikan.
8. Tidak membutuhkan luas kandang yang besar.
9. Lebih tahan terhadap penyakit unggas.
Bibit Puyuh (DOQ) yang dipilih.
Untuk keberhasilan usaha budidaya puyuh perlu diperhatikan beberapa aspek pemilihan anak puyuh (DOQ) yang akan dipelihara, antara lain :
4
1. Anak puyuh berasal dari perusahaan pembibitan yang memiliki bibit induk (parentstock) unggul yaitu bertelur 300 – 310 butir/ekor/tahun dan bobot badan 7 – 8 gram, sehingga finalstocknya berproduksi telur yang tinggi.
2. Anak puyuh harus seragam baik bobot badan maupun warna bulunya (sesuai strain). Bulu kering dan mengembang.
3. Kondisi fisik sehat dan tidak cacat.
4. Bebas dari penyakit unggas (vaksinasi induk teratur dan terjadwal).
Cara Pemilihan Bibit untuk Induk (Parentstock).
Untuk usaha pembibitan (breeding), perlu dilakukan seleksi ketat terhadap puyuh betina maupun jantan, sehingga dapat diharapkan memperoleh anak puyuh (Day Old Quail) yang berproduksi tinggi dan berukuran telur lebih besar dan lebih berat.
Hal yang perlu diperhatikan saat seleksi puyuh, antara lain :
1. Telur tetas (Hatching Egg) memiliki fertilitas dan hatchabilitas tinggi berasal dari induk dengan masa produksi yang cukup (4 – 8 bulan).
2. Sex Ratio (Perbandingan Jantan dan betina) = 1 : 4.
3. Sifat genetik harus sebagai berikut :
Berasal dari keturunan puyuh yang mempunyai kemampuan bertelur relatif tinggi dan bobot telur cukup besar (Standart 10 – 12 gram/butir).
Berasal dari keturunan induk yang sehat, tahan stress dan tidak nervous (kaget).
Memiliki masa produksi/ siklus cukup panjang yaitu 1,5 – 2 tahun, dapat diperkirakan dari bobot badan betina dewasa pejantan 120 – 130 gram dan betina dewasa 140 – 150 gram.
Performa Puyuh.
Untuk memudahkan tatalaksana usaha puyuh baik untuk petelur maupun pedaging, harus terlebih dahulu mengetahui performa/karakteristiknya, seperti pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5 : Performa Puyuh Lokal
Parameter Uraian
Umur dewasa kelamin 42 – 55 hari
Produksi telur / siklus 250 – 300 butir
Bobot jantan/ekor 117 gram
Bobot betina/ekor 143 gram
Bobot DOQ/ekor 7 gram
Bobot telur/butir 9 – 10 gram
                                                          Sumber: Dinas Peternakan Prov. Jawa-Barat (2010).

4
Kondisi genetik puyuh di Indonesia sudah carut marut karena terjadinya inbreeding terus menerus antara puyuh lokal (Coturmix coturmix japonica), sehingga produksi telurnya rendah dan menurun ketahanan terhadap penyakitnya. Untuk memperbaiki kondisi tersebut sebuah pembibitan puyuh yang berlokasi di Sleman – Yogyakarta (PT Peksi Gunaraharja) sudah melakukan crossbreed antara puyuh lokal (Coturmix coturmix japonica) dengan puyuh unggul import dari Perancis (Coturmix coturmix coturmix), dan diperoleh turunannya yang cukup menggembirakan yaitu untuk puyuh klas Premium pada umur 50 hari sudah mencapai produksi telur 50% dan pada umur 70 hari mencapai puncak produksi 90% selama 30 hari dengan rata-rata produksi tahunan 85%. Telur puyuh klas Premium ini ditujukan untuk segmen pasar yang menjual dalam bentuk butiran, rata-rata 92 – 95 butir/kg.
Sedangkan puyuh klas Diamond memiliki prestasi produksi sama dengan puyuh klas Premium, hanya puncak produksinya dicapai lebih lambat yaitu umur 90 hari. Puyuh klas Diamond ini ditujukan untuk membuat telur puyuh ukuran besar (85 butir/kg) dengan segmen pasar daerah yang menjual telur puyuh secara kiloan, sehingga peternak lebih efisien tidak perlu memelihara induk puyuh yang banyak. Kelebihan puyuh klas Diamond ini dibandingkan klas Premium ialah lebih tahan stres dan penyakit.
Peluang Bisnis Puyuh terbuka lebar.
Bisnis puyuh di Indonesia masih tergolong langka baik pembibitan maupun budidayanya, mungkin disebabkan kurang gencarnya penyampaian informasi mengenai “unggas mini” ini  oleh media catak maupun elektronik, baik menyangkut keunggulan gizinya, profit yang mampu diraih disamping cita-rasanya yang tidak kalah dengan produk unggas lainnya. Tertinggalnya bisnis puyuh dibanding jenis unggas lainnya, tergambar pada populasi puyuh di Indonesia dalam periode 5 tahun seperti pada Tabel 6 berikut.
Tabel 6 : Populasi Puyuh dibandingkan Jenis Unggas
                                                               Lainnya di Indonesia (Tahun 2008 – 2012)
Jenis Unggas 2008 2009 2010 2011 2012
Ayam Ras Pedaging 902.052.000 1.026.379.000 986.872.000 1.177.991.000 1.266.908.000
Ayam Kampung 243.423.000 249.946.000 257.544.000 264.340.000 285.227.000
Ayam Ras Petelur 107.965.000 111.418.000 105.210.000 124.636.000 130.539.000
Itik 39.840.000 40.676.000 44.302.000 43.488.000 46.990.000
Puyuh 6.683.000 7.543.000 7.054.000 7.357.000 7.841.000
Merpati 1.499.000 1.815.000 490.000 1.209.000 1.334.000
Sumber: Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2012 – Ditjen Nak & Keswan.

Manfaat lain Puyuh.
Selain kita memperoleh manfaat dari telur dan daging puyuh, juga didapat manfaat lain yaitu dari :
1. Bulunya : dapat dipergunakan untuk membuat berbagai kerajinan seperti lukisan bulu, topeng, patung ayam, topi bulu dan lain-lain.
2. Kotorannya untuk pupuk kandang yang baik untuk tanaman, disamping sebagai sumber energi biogas untuk kompor dan listrik rumah tangga.
5
3. Bangkai/puyuh afkir dan telur tetas afkir untuk pakan ikan lele.

Kemana Anda ingin pesan bibit dan ikut pelatihan ?                                                                       
Untuk pemesan DOQ dan ikut pelatihan dapat menghubungi :
PT. PEKSI GUNARAHARJA
Desa Ngasem, Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
Telp. (0274) 7102587 Fax. (0274) 557755
E-mail : evy_satya@lysco.co
Pusat Pembibitan “Slamet Quail Farm”
Desa Cilangkap, Kec. Cikembar, Sukabumi.

                                                 (Penulis praktisi perunggasan, alumni Fapet Unpad)






 
 


Share this Post :