MENGENAL “AYAM SENSI” BALITNAK PENGHASIL TELUR DAN DAGING UNGGUL


Jan 06, 2016 by Disnak Jabar    Dibaca : 1854 Kali
 

1
AgriUnggas:
MENGENAL “AYAM SENSI” BALITNAK
PENGHASIL TELUR DAN DAGING UNGGUL
Oleh : Euis Dewi, KS. AP
Ayam “SenSi” bukan berarti ayam sensitif atau ayam seksi, tetapi singkatan dari “Ayam Sentul Seleksi” hasil penelitian pakar unggas Balai Penelitian Ternak – Ciawi Bogor. Dari hasil koleksi ayam Sentul dari wilayah Kabupaten Ciamis – Jawa Barat, kemudian dilakukan pengandangan dan penomoran babon (bibit induk betina secara individu dalam kandang baterai. Proses selanjutnya dilakukan Kawin Suntik (Inseminasi Buatan) dengan menggunakan pejantan yang masih dalam populasi babon tersebut. Setelah itu mulai dikerjakan koleksi telur tetas, yang selanjutnya ditetaskan dalam mesin tetas (incubator). DOC atau anak ayam turunannya baik betina maupun jantan diseleksi, lalu setiap ekor diberi nomor dan dipelihara dalam kandang baterai atau kandang postal sampai dengan umur 10 minggu. Untuk mendapatkan rumpun Ayam Sentul, maka setelah umur 10 minggu dilakukan seleksi berdasarkan bobot badan. Untuk anak ayam pejantan diambil yang bobot badannya 25% tertinggi, sedangkan untuk induk betina diambil yang bobot badannya 50% tertinggi. 
Setelah berumur 16 minggu anak ayam Sentul hasil seleksi bobot badan tersebut, kemudian dipindahkan ke kandang baterai, untuk dilakukan Kawin Suntik. Dengan demikian diharapkan dapat diperoleh “Ayam SenSi” yang lebih unggul dibandingkan dengan ayam Sentul yang sudah beredar baik di masyarakat Ciamis dan sekitarnya.
Sejarah Ayam Sentul.
Berdasarkan cerita (legenda) rakyat Ciamis, ayam Sentul adalah peninggalan Satria Ciung Wanara, putera dari pernikahan Raja Galuh dan Puteri Naganingrum. Pada waktu dilahirkan Ciung Wanara dihanyutkan ke Sungai Catanduy dikarenakan bukan putera Permaisuri Bramawijaya (Raja Galuh) yang sah. Sewaktu dihanyutkan, dalam perahunya dibekali 2 butir telur ayam. Selanjutnya Ciung Wanara ditemukan oleh kakek dan nenek Balangantrang. Sambil membesarkan Ciung Wanara, telur ayam tersebut dieramkan di daerah Naga Wiru (Ciamis sekarang) . Setelah menetas kemudian anak ayam itu, dipelihara, kemudian berkembang dengan baik dan diantara keturunannya terdapat Ayam Sentul jantan dengan warna bulu “Jalak Harupat” (abu-abu). Ayam jantan ini sangat disayangi Ciung Wanara dan dinamai “Si Jelug”. Karakter “Si Jelug” sangat lincah, kuat dan agresif sehingga dalam setiap kontes ketangkasan selalu menjadi pemenang.
Pada saat Ciung Wanara mengikuti  kontes ketangkasan bersama ayam para bangsawan Tatar Galuh, “Si Jelug” yang notabene “Pejantan Sentul” selalu menang. Ternyata hal ini menarik perhatian Raja Galuh untuk menandingkan dengan pejantan milik Raja Galuh dengan taruhan sebagian wilayah Kerajaan Galuh. Akhirnya Ciung Wanara dengan “Si Jelug” memenangkan kontes dan mendapatkan sebagian wilayah Kerajaan Galuh.


2
Hasil Seleksi Generasi Ke-II Ayam “SenSi”.
Dari hasil rekayasa genetik (perkawinan silang antar ayam unggul), maka diperoleh ayam lokal “Sensi” dengan Kinerja Biologis, seperti pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1 : Kinerja Biologis Ayam “SenSi” Generasi Ke-II
Kinerja Biologis
Ukuran
Bobot DOC
32 gram
Bobot umur 10 minggu
Jantan : 1.100 gram
Betina :    956 gram
Konsumsi pakan s/d umur 10 minggu
3 kg
Bobot betina dewasa (umur 18 minggu)
1,8 kg
Bobot induk pertama bertelur
1,86 kg
Bobot telur petama
25 gram
Bobot telur rata-rata
39 gram
Warna bulu
Abu-abu dan putih totol hitam
Warna shank
Kuning, putih, abu
Warna kulit
Kuning atau putih
                           Sumber: Balai Penelitian Ternak – Ciawi Bogor (2012)

Dari hasil seleksi dan rekayasa genetik tersebut diatas, ternyata ada perbaikan bobot badan dewasa betina umur 18 minggu (1,8 kg) dibandingkan bobot ayam betina dewasa pada umur yang sama pada ayam Sentul yang berkembang di masyarakat dan belum diseleksi yaitu hanya 1,3 kg (Laporan Tike Sartika & Sofjan Iskandar, 2007 dalam buku “Mengenal Plasma Nutfah Ayam Indonesia dan Pemanfaatannya” hal. 90). Jadi ada peningkatan bobot badan 0,5 kg, selain dari pada itu pada umur 10 minggu (batas ideal panen ayam kampung pedaging) bisa mencapai bobot 0,956 kg. Hal ini cukup menggembirakan untuk mengarahkan ayam Sentul untuk kepentingan usaha sebagai petelur atau pedaging.

Program Penangkaran Ayam “SenSi”
Model yang dikemukakan Balai Penelitian Ternak untuk Program Penangkaran Ayam “SenSi” yaitu berupa:
1.
Penyebaran Leaflet dan Booklet Galur Hasil Seleksi melalui ajang Pameran dan Situs Jejaring Sosial (Web Site).
3
2.
Pelayanan permintaan peternak akan DOC.
3.
Inventarisasi peternak yang memiliki kemampuan perbanyakan bibit (sebagai breeder).
4.
Inisiasi pembentukan UPBS (Unit Perbanyakan Bibit Sumber) Balitnak sebagai Penyedia DOC.
5.
Kerjasama Balitnak dengan para perbanyakan bibit (penangkar) DOC.
6.
Pendampingan inovasi teknologi perbanyakan bibit peneliti dan teknisi Balitnak.
7.
Ideal: Open Nucleus Breeding System.
8.
Promosi Diversifikasi Produk. 
Performance Ayam Sentul Non-Seleksi.
Berdasarkan laporan Tike Sartika & Sofjan Iskandar (2007) dikutip dari Sulandari dkk (2006), performance Ayam Sentul yang berkembang di masyarakat Ciamis dan belum terseleksi secara terarah, seperti pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2 : Performance Ayam Sentul Non-Seleksi.
Uraian :
Ukuran :
Bobot dewasa jantan
2,0 kg
Bobot dewasa betina 
1,3 kg
Produksi telur
118 butir / tahun
Bobot telur
38,5 gram
Umur pertama bertelur
5,5 bulan
  Sumber: Balai Penelitian Ternak dikutip dari Sulandari dkk (2006).
Menurut Direktorat Perbibitan Ternak – Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012), bahwa Ayam Sentul bersama ayam Merawang dan ayam Kedu masih dalam proses penetapan sebagai Rumpun Unggas Indonesia, sedangkan ayam Gaga, ayam Kokok Balenggek dan ayam Pelung sudah ditetapkan sebagai Rumpun Unggas Lokal Indonesia. Ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak) dan ayam Sembawa masih menunggu pelepasan secara resmi dari Pemerintah.
Kita semua stakeholder perunggasan menunggu keputusan Pemerintah c/q Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan penetapan Rumpun ayam Sentul, Merawang dan Kedu serta pelepasan ayam KUB dan Sembawa sebagai Rumpun Ayam Lokal Indonesia yang merupakan Plasma Nutfah Unggas Indonesia, dalam waktu tidak terlalu lama.



 
 


Share this Post :