FASCIOLIASIS / DISTOMATOSIS (CACING HATI) PADA SAPI


Jan 07, 2016 by Disnak Jabar    Dibaca : 1488 Kali
 

FASCIOLIASIS / DISTOMATOSIS (CACING HATI) PADA SAPI
 
Pengertian Fascioliasis Fascioliasis atau cacing hati pada sapi merupakan penyakit yang berlangsung akut, sub akut, atau kronik yang disebabkan oleh trematoda (cacing pipih) Fasciola sp. Cacing hati dapat tumbuh dan berkembang serta merusak jaringan hati, saluran empedu, paru-paru, otak dan limpa. 
Kasus ini sering terjadi saat Hari Raya Idul Adha dimana pada waktu pemeriksaan post mortem hewan qurban setelah hewan disembelih dijumpai cacing hati terutama di organ hati sapi. Penyakit ini merupakan isu utama karena organ hati yang terinfestasi cacing tidak layak dikonsumsi dan menurut ilmuan penyakit ini bisa menular ke manusia (zoonosis) sehingga apabila ditemukan cacing hati di hewan qurban tersebut  masyarakat akan merasa resah dan takut.

Penyebab :
-
Cacing Fasciola sp. 
-
Paling sering disebabkan oleh cacing dengan spesies Fasciola gigantica

Proses terjadinya penyakit :

 
-
Cacing hati yang masih muda berupa larva berasal dari telur yang menetas di dedaunan atau rerumputan yang basah. Larva itu berenang-renang mencari siput atau bekicot yang hidup di tempat-tempat yang basah atau tergenang air, seperti rawa-rawa, payau dan sebagainya.
-
Di dalam tubuh siput, larva mengalami beberapa fase perkembangan dengan cara membelah diri dan berubah bentuk. Setelah 6 minggu dalam tubuh siput, mereka mengalami perkembangan yang sempurna dan kemudian keluar dari tubuh siput
-
Larva yang baru saja keluar dari tubuh siput aktif berenang-renang dan menempel pada dedaunan atau rerumputan yang berada di dekatnya dan membungkus dirinya dengan suatu kista sebagai perlindungan. 
-
Bersama-sama rumput yang termakan hewan, kista masuk ke dalam alat pencernaan. Kemudian dinding kista hancur dan cacing hati yang masih muda tadi muncul. Akhirnya mereka menembus dinding-dinding usus, pindah ke hati bersama aliran darah. Parasit-parasit muda tadi akan berada dalam hati selama 6 – 8 minggu.
-
Sesudah mereka mengalami kedewasaan, parasit berpindah ke saluran empedu dan bertelur di situ. Telur-telur tadi berpindah ke alat pencernaan melalui saluran darah dan kemudian keluar dari tubuh hewan bersama kotoran.
Gejala Klinis :
-
Kekurusan
-
Kelemahan umum
-
Nafsu makan dan minum menurun
-
Anemia, warna kuning meningkat dijumpai pada jaringan kulit dan lemak
-
Pembengkakan daerah rahang bawah dan kelopak mata
-
Diare berwarna kehitaman
-
Pada individu muda perut bagian bawah nampak menggantung

Cara Mendiagnosa :
-
Dilihat berdasarkan riwayat dan gejala klinis yang muncul
-
Pemeriksaan fisik : palpasi (raba) abdominal (daerah perut) organ hati akan mengeras dan sapi akan terasa sakit 
-
Pemeriksaan laboratorium melalui pemeriksaan mikroskop dengan metode sedimentasi
-
Bedah bangkai dilakukan untuk melihat keabnormalan organ hati (peradangan, perdarahan, perubahan warna, dan pengapuran),  selain itu sering ditemukan cacing hati di organ hati maupun saluran empedu

Diagnosa banding :
-
Penyakit yang disebabkan oleh infestasi cacing Paramfistomum sp.

Pengobatan :
-
Karbon tetrakhlorida (CCL4) dengan dosis pemberian 4-5 ml/100 kg aplikasi Sub Cutan (SC)
-
Hexachlorethan dengan dosis pemberian 60 gr aplikasi oral
-
Clioxanide dengan dosis pemberian 20-40 mg/kg Berat Badan aplikasi oral
-
Dovenix dengan dosis pemberian 3 mg/kg Berat Badan aplikasi oral
-
Derivat benzimidazol (albendazol, triclabendazol, probendazol febantel) dengan dosis pemberian 4-8 mg/kg Berat Badan aplikasi oral 


Pencegahan :
-
Pemberian obat cacing pada sapi secara rutin kira-kira 3-4 bulan sekali
-
Jangan mengembalakan ternak sapi pada pagi hari dimana rumput-rumput masih basah disitu sebagai tempat menempelnya telur-telur cacing


Oleh 
:  drh. Yusni 
Sumber 
: Subronto-Ida Tjahajati.Ilmu Penyakit Ternak II. 2001. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Tgl penulisan
: 3 Juni 2015

 
 


Share this Post :